Thursday, October 19, 2006

pada suatu petang

Berjalan bersama seorang anak kecil memang berbeda ya. tiba-tiba suasana jadi lebih istimewa. Mungkin karena dia selalu senang mengamati dan menikmati sekitarnya. mungkin karena kita, terbiasa berjalan melewati begitu saja, tanpa merasa perlu meresapi apa-apa.

Sore itu, aku menjemput atala di kuningan.
Karena ayahnya tidak bisa jemput, jadilah hari itu kita berencana naek angkot.

dari pasar festival menuju tempat mikrolet ngetem agak jauh. Ada sih jalan setapak yang biasa dipakai motor untuk sebagai jalan tembus. Disitulah aku melewatinya bersama Atala. Sebenarnya, ini bukan kali pertama aku melewati jalan itu. Dan hari itu adalah hari kedua aku melewatinya bersama Atala. Tapi memang hari itu agak berbeda. Sebabnya, karena aku ga membawa gendongan, jadi aku ga kuat menggendong atala sepanjang jalan. beberapa kali, aku menurunkan atala untuk berjalan sendiri, dan beberapa kali dia meminta gendong lagi. mungkin dia kecapekan seharian didaycare, apalagi baru adaptasi kan.

Saat sampai di jalan setapak, aku kembali menurunkan atala, dan menuntunnya berjalan pelan-pelan menyusuri jalan itu. waktu itu hari sudah mulai gelap....semburat matahari kemerahan sudah mulai terlihat, tapi tentu saja, saat itu aku tidak memperhatikannya. Atala tampak senang berjalan disitu, sesekali ia menendangi daun-daun berguguran yang ada disitu, dan menginjak-injak jalan yang penuh bebatuan.

Untuk pertama kalinya, aku baru menyadari, bahwa suasana saat itu indah sekali. matahari kemerahan dilangit, dan daun kekuningan berserakan dijalan. seakan-akan musim gugur tiba-tiba hadir di tengah-tengah jakarta yang penuh sesak dan polusi ini. Atala juga senang sekali dengan batu-batu dijalan, padahal para pengendara motor mungkin menilainya menyusahkan, tapi jalan setapak diwaktu petang ini memang jadi terasa lebih indah. Lalu, tiba-tiba atala menoleh ke atas, yang membuat aku juga ikut melihat ke atas. Disana, burung-burung (sepertinya burung gereja), tampak beterbangan berputar, jumlahnya banyak sekali. seakan-akan mereka menjadi atap bagi jalan ini. Aku terkesima.

Langit kemerahan.
Angin berdesir pelan.
Daun-daun berguguran.
Jalan bebatuan.
Burung-burung beterbangan diatas kepala.

Dan aku melihatnya bersama Atala. Wuaaah.

Tak pernah aku membayangkan, bisa mendapatkan pemandangan seperti ini, di Jakarta. Beberapa menit aku pun menikmati suasana itu bersama atala. Tak lama, Aku berada dipenghujung jalan setapak. Mikrolet-mikrolet tampak terparkir berjajar mencari penumpang. Jalanan keliatan macet, dengan begitu banyak kendaraan tampak berjalan padat merayap, menandakan suasana kota metropolitan.

Hhhh....

Aku seperti baru terhempas ke negeri Narnia, dan tiba-tiba kembali lagi ke jakarta saja. hehehe.